Rabu, 11 November 2009

Jangan Buang Frame Lamamu

Ada kalanya kita bosan dengan sepeda yang ini ini saja. Hal tersebut wajar .Namun jika kita kesampainan memiliki rangka sepeda yang baru maka saran saya jangan buang frame lama tersebut. Bisa jadi suatu saat kita ingin lagi memakai frame tersebut. Beberapa bulan yang lalu ,sebuah Frame lama yang saya temukan diantara onggokan frame di sebuah bengkel sepeda memikat hati saya. Frame tersebut sudah tidah diketahui lagi merknya, namun yang jelas ada tanda made in Taiwan di bagian head nya , bisa dibaca dengan jelas.
Saya menebusnya beberapa puluh ribu dan saya tambahkan sebuah frame lama saya. Tukar tambah istilahnya. nggak apa apa Frame ini cukup kokoh dilihat dari tebalnya bahan pipa yang dipakainya.
Selesai menjalani ritual pembersihan dan pembaruan kulitnya saya hidupkan lagi Frame tersebut. Bermodal parts koleksi yang saya simpan di gudang , jadilah frame tersebut menjadi sebuah sepeda yang mungkin siap untuk dipakai bersepeda jarak jauh .
Lampu untuk perjalanan malam keluaran pabrik cateye juga saya tambahkan pada sepeda ini. Sebuah Spy mirror cateye juga menempel di bar sebelah kanan.
Tambah Cakep ketika seorang teman memberikan rear Dereauleur Altus keluaran pabrik Shimano. Pas serasi dengan Gear Super Low 14-34 original yang saya tebus dari Toko Sepeda Ali Purwakarta. Rak Belakang juga sudah saya sediakan untuk membawa bekal bersepeda jarak jauh.

Ciherang Sukajadi

Saya penasaran dengan rute ini. Pada peta yang saya miliki ,kedua desa tersebut dipisahkan oleh sungai dan tidak terdapat simbul adanya jembatan yang menghubungkan desa desa tersebut.
Penasaran sekali rasanya menemukan rute yang melalui sungai tanpa jembatan penghubung. Melalui rute ini mau tidak mau mesti manggul sepeda menyeberang

Perjalanan Impian

Sebenarnya mimpi tersebut sangat sederhana yaitu bersepeda melewati rute cross country dan bermalam diperjalanan dengan tenda . Walaupun kelihatannya sederhana namun belum terlaksana juga. Aneh memang di negeri yang sudah merdeka ini ada perasaan was was jika harus bermalam dengan tenda didaerah bukan tempat tinggal kita. Bukan takut binatang atau hantu, saya lebih khawatir terhadap manusia.
Padahal rute yang ingin saya tempuh dalam mimpi saya ini tidak jauh juga. mimpi yang sederhana . Bersepeda ke bendungan ciawitengen karawang. Daerahnya ada di Peta .hanya ada rute yang sepertinya single track . Semoga mimpi ini bisa saya wujudkan

Selasa, 10 November 2009

Tanjakan killer


Ada sebuah alat yang dapat dikategorikan sebagai penakluk tanjakan . alat tersebut bukan dooping haram. Sebuah Gear / sproket bernama super low gear.Superlow gear adalah gear dengan rangkaian gigi terdiri dari 34 mata. Gigi terbesar yang memiliki 34 mata ini dapat dipakai untuk menaklukkan tanjakan panjang dan sudutnya besar. Dengan pengeluaran tenaga tang ringan maka tanjakan 2 sulit biasanya bisa dilewati dengan tanpa turun dari sepeda.
Paduan gigi super low 34 mata dan chain ring depan 22 mata cukup ampuh sebagai jurus pamungkas melewati tanjakan tanjakan panjang.
Beberapa tanjakan yang sukses saya lewati menggunakan gigi superlow adalah Tanjakan Jatiluhur, tanjakan Ciredeu , dan tanjakan wanayasa.
Sebuah gear 7 tingkat kecepatan yang menyediakan gigi 34 mata ini biasanya dapat kita bawa pulang dengan menyediakan tebusan sebesar 85 ribuan . untuk yang merk bukan shimano bisa kita tebus dengan 55 ribuan.
untuk seri super low gear yang lebih tinggi tentu uang yang kita sediakan juga harus tinggi juga.
Selamat menjelajah tanjakan

Selasa, 29 September 2009

pasir ipis lagi



Rute ini adalah rute standar kami, sedang saja tidak terlalu berat dan tidak terlalu ringan . Rute ini berada di sekitar kota purwakarta. Asyik walau dipinggir kota bisa menemukan rute bersepeda dengan medan cukup lengkat. Jalan menanjak ada 5 tanjakan , semuanya tanjakan ringan , cuma sekitar 200 m tiap tanjakan . medan jalan berbatu juga ada. menurun cukup tajam tersedia. dan menyeberang sungai melewati jembatan bambu untuk melatih keseimbangan juga ada.Pokoknya Lengkap. Hal yang paling menyenangkan adalah setelah bersepeda 2 jam kami makan bersama , lengkap sambel asin telur dadar, tempe goreng , teh manis , lezaaat

Jumat, 28 Agustus 2009

Membongkar RST Omega TnL 100 mm

Penasaran juga sama fork depan andalan saya ini. RST ini saya beli di Rodalink Bandung. Waktu itu seri ini baru keluar. Sayang ketika dipakai terdapat bunyi tok-tok dari sisi kanan atau sisi hidrouliknya.
Untuk pengetahuan saja , fork ini memiliki leg hidroulik di sebelah kanan dan coil spring di sisi kiri. Secara umum Fork ini cukup handal melintas jalan rusak. Beberapa kali saya pakai melibas jalan di sekitar Advanture champ di Jatiluhur Purwakarta. Tidak ada kekhawatiran fork akan jebol. Begitu juga ketika melahap jalan macadam rusak di Curug Cijalu Cipancar Subang . Oke- oke saja. Mantab habis.
Masalah yang saya hadapi hanya suara itu. Lumayan berisik. Penasaran terus akhirnya saya putuskan membongkar jeroan fork tersebut. Nekat saja coil saya keluarkan dengan membuka dari setelan preload. Kunci yang saya pakai hanya kunci “gegep “. Dengan hati-hati , hasilnya tidak menimbulkan kerusakan dari cap yang berfbahan plastic keras tersebut. Lumayan Preload yang macet karena penyetelan preload yang melebihi batas bisa saya kembalikan . Preload yang dulu sleg / saya kembalikan pada fungsinya. Untuk mencegah sleg terulang pada bagian ujung ulirannya saya beri spacer dari bahan karet yang saya dapat dari seal senapan angin. Lumayan tidak khawatir over penyetelan lagi karena sedah diberi spacer untuk mencegah kejadian berulang .
Ternyata bunyi berisik tidak hilang. Tambah nekat bagian hidrouliknya saya keluarkan dari rumah . saya test jalan tanpa Hidrouliknya. Yah ,….. Bunyi berisik tok tok hilang sama sekali. Bagian hidroulik yang mempunyai berat 400 gram tersebut ternyata bisa di lepas dan fork tidak kehilangan fungsinya. Hanya fungsi Lock yang hilang.
Tidak ada alat yang dapat membongkar bagian hidroulik tersebut sehingga saya tidak bisa melakukan pemeriksaan terhadap part mana yang bermasalah. Bisa saja oil yang kurang. Namun untuk menambah oilnya tidak ada bengkel sockbreaker yang bisa melakukannya. Ya sudahlah mungkin sudah cacat dari sananya. Maklum saja namanya juga produk masal . Bisa saja terjadi cacat produksi yang tanpa mengaja lolos dari bagian Quality Control.

Sabtu, 22 Agustus 2009

Gowes Bareng Roger Bagen

Pengalaman yang sangat berharga bisa bermain sepeda dengan anak anak Roger Bagen, Kita tahu grup bersepeda ini sudah kenyang pengalaman dan sudah banyak makan asam garam bersepeda.
Lokasi yang kami ambil adalah disekitar daerah Grand Wisata. Seperti kita tahu disekitar daerah tersebut banyak terdapat lahan yang bisa dimanfaatkan untuk bermain sepeda. Daerah sekitar Mustika Jaya ke belakang kita akan menemui rute jalan single trek, sampai kita menemui sebuah situ yang lumayan besar. Situ Cibereum namanya.Sayang sekali saat sekarang musim panas sudah mulai tiba, sehingga jaln single trek bisa menimbulkan kepulan debu tanah.
Bermain dengan kelompok ini membuat saya memiliki kesan yang luar biasa ketika saya mencoba menaklukan drop off sekitar 1 meter dengan sepeda saya yang generic. Terus terang ini adalah pengalaman saya mencoba trik drop off.
Saya terjatuh di trik ini dan hand phone saya nyaris hilang karenannya. Untuk sekali teman teman dari Roger Bagen sigap membantu menemukan kembali HP saya yang terpental ketika saya terjatuh di drop off tersebut. Sejujurnya saya cukup sulit menemukan lokasi saya terjatuh sehingga cukup lama menemukan kembali HP saya.
Jujur saja saya baru tahu kalo di daerah bekasi banyak rute untuk bermain sepeda gunung. Namun harus di akui antusiasme bersepeda di daerah ini cukup tinggi. Hal tersbut dibuktikan dengan banyaknya rombongan pesepeda yang kami temui sepanjang rute. Waluupun rute yang kami lalui tidak jauh hanya sampai Telajung dan kembali ke Mustika Jaya namun cukup memuaskan .
Terima kasih kawan , suatu saat kita ketemu di trek atau rute yang lain.

Senin, 17 Agustus 2009

Beberapa gambar

Pendakian ke Tangkuban Perahu


Tangkuban Perahu berada pada ketinggian 1803 mdpl . Terletak di Kabupaten Bandung Barat yang berbatasan dengan Kab. Subang . Untuk mencapai Gunung ini kita bisa melalui 2 cara. Pertama melewati jalan cagak - Ciater- Tangkuban Perahu.Yang kedua Sagala Herang - Ciater -Tangkuban Perahu.
Berkaitan dengan kemungkinan volume kendaraan yang melintas, saya memutuskan untuk memilih jalur Sagalaherang-Ciater- Tangkuban Perahu. Jalur ini relativ lebih panjang dari rute yang pertama.
Titik keberangkatan kami ada di desa Dayeuh Kolot , sebuah desa di kecamatan Sagalaherang Subang. Desa ini kami pilih karean kami bisa memarkir alat transportasi kami dengan aman . Kami menemukan Rumah makan yang menyediakan masakan khas jawa barat dan menyediakan tempat parkir yang cukup bagus di halaman depan rumah makan tersebut. Rumah makan ini saya lupa menanyakan namanya , namun bisa ditandai dengan keberadaannya berada di kiri jalan jika kita berangkat dari Purwakarta. Bahkan bukan hanya sekedar parkir , Tuan rumah yang baik ini mempersilahkan kami memarkir katana kami di halaman kediaman pribadinya yang berada di sebrang warung nasinya. Jika kita melewati warung nasi ini kita bisa mampir. Tanda yang dapat kami berikan adalah rumah makan / warung ini memiliki bangunan lantai 2/ loteng kecil di bagian depan.Dan terletak sebelum sebuah turunan u turn memasuki kecamatan Sagalaherang.
Pukul 08:30 pagi tanggal 15 Agustus 2009, suatu tanggal yang telah kami rencanakan selama kurang lebih tiga bulan yang lalu untuk mendaki puncak Tangkuban Perahu. Berjarak kuang lebih 50 meter didepan warung nasi terdapat sebuah jalan kecil namun sudah diberi lapisan aspal yang mulus , bisa kita lewati untuk mencapai daerah Ciater. Dari titik ini permukaan jalan relativ halus. ini artinya kita bisa memakai ban ukuran sedang atau 1.75 saja. Penggunaan ban ukuran yang lebih besar dari ukuran tersebut tidak begitu diperlukan untuk bisa menyelesaikan rute ini.
Jalan menanjak dari titik awal keberangkatan sampai desa Ciater harus disiapkan untuk bisa melewati rute ini. Puncak Tantangan akan kita rasakan setelah kita melewati Capulaga champing Ground. Disini kita menghadapi tanjakan yang cukup menguras stamina. Tidak jarang ban depan saya sampai terangkat untuk tetap bisa melaju. Di ujung tanjakan kita bisa bertemu lapangan sepak bola yang bisa kita gunakan untuk regroup jika ada anggota yang tercecer ketika melewati tanjakan ini.
Jika kita memiliki banyak waktu, di seberang lapangan bola , kita bisa menemui sebuah Curug atau air terjun, Lumayan tidak sampai 2 km dari lapangan bola tersebut adalah lokasi curugnya.
Dari lapangan bola ini kita bisa menikmati pemandangan perkebunan teh , dan lumayan jalan yang kita hadapi sedikit agak rata. 2,5 km kurang lebih dari lapangan ini kita akan mencapai desa Ciater.
Dari Ciater jarak yang kita p;erlukan untuk mencapai kawah tangkuban Perahu tinggal sekitar 9 km lagi. Namun jangan anggapo remeh jarak ini . dari titik ini tidak ada lagi menadn datar , 95 % tanjakan . Salah satu alasan mengapa rute ini tidak dipakai lagi pada balapan sepeda jalan raya adalah karena tanjakan dahsyat tersebut.
pukul 01:00 kami mencapai kawah Tangkuban Perahu. Lumayan Lambat. Harus saya akui beberapa kali saya turun dari sadle untuk mengambil kesempatan istirahat. saya beberapa kali mendorong sepeda untuk sampai ke titik 1803 m dpl.

Rabu, 29 Juli 2009

Tour Ke Rengas Dengklok

Ini adalah Tour dadakan yang tidak direncanakan dengan baik , hanya berdasarkan kesepakatan ketika anak anak Patriot sudah ngumpul hari minggu tanggal 26 Juli 2009. Jumlah starter yang ikut ada 12 orang, namun yang benar benar ikut menggowes ke Dengklok hanya 5 orang. Selebihnya pulang begitu sampai di Kosambi.
Rombongan utama memulai perjalanan dari Situ Buleud melewati curug dan menuju pos pertamadi pasar Kosambi , sedangkansaya menyusul 1 jam kemudian dari Cimaung melewati kawasan industri BIC. Rombongan pertama yaqng sudah sampai duluan di Kosambi tidak sabaran menunggu anggota yang tertinggal . Dikarenakan mereka memacu sepedanya seperti lomba ITT sehingga sampai dengan cepat di Kosambi. Saya yang biasa jalan pelan tertinggal jauh membuat mereka yang sampai di pos I Kosambi memutuskan kembali ke rumah karena merasa menunggu terlalu lama.
Harapan saya bisa bertemu dengan anggota Clussbi di markas mereka tidak kesampaian karena beberapa alasan . Salah satu diantaranya adalah saya tidak memiliki kontak dengan salah satu diantara mereka. Sehingga nggak bisa ketemu. Padahal kami ingin sekali bersilaturahmi dengan sesama pecinta olah raga bersepeda.
Titik pos I ini kami gunakan untuk mengisi perut kami dengan nasi bungkus . Kebetulan sekali sudah lama ingin merasakan kembali nikmatnya nasi bungkus warung tegal. Pas didepan Masjid tempat kami memarkir sepeda ada warung Tegal Slawi Ayu. Saya pun memesan nasi bungkus untuk teman teman saya yang mempersiapkan diri Sholat dluhur di Masjid tersebut.
Rp. 4.500 untuk satu bungkus nasi , lumayan nasi dengan sayur, tempe kering orek, dan tahu goreng. Ini menu saya waktu masih sekolah di Jakarta dulu. Wah warung tegalnya baik sekali . kami diberi Bonus satu kantong air putih per bungkus nasi. Lumayan buat ngisi bidon yang sudah mulai berkurang isinya.
Pukul 13:00 kami gowes kembali. Sebenarnya rute ke Dengklok saya dak hafal betul. Saya hanya mengandalkan ingatan saya ketika 2 hari sebelumya mencoba membuka peta daerah Karawang di komputer saya. Titik yang saya hafal hanyalah daerah Rawamerta saja. Maklum Peta Gratisan tersebut terputus di Desa Rawa Merta . Dari rawa Merta Ke Denglok Tidak bisa saya buka.
30 menit memacu sepeda kami menjejakkan kaki di perempatan pasar Talaga Sari. Sungguh Pasaryang lumayan ramai. Lokasi yang sangat baik untuk pusat perniagaan di daerah sekitar desa ini . pasar ini terletak di pertemuan antara dua jalan . Bisa juga disebut perempatan jalan.
Dari Pasar ini kami meneruskan ke desa Ciranggon dan menunju desa Kutawargi. Sepanjang jalan dari Talagasari ke Ciranggon kami melihat pedagang buah kawista di pinggiran jalan . namun karena ingin segera sampai di Ciranggon kami tidak menyempatkan diri mencicipi rasa buah Kawista .Sampai Disini semangat kami masih 55 , namun ketika sampai di sebuah jalan yang bertemu dengan sebuah saluran irigasi , salah dua dari rombongan kami minta pulang saja , takut tidak cukup waktu untukn sampai di rengas Denglok dan Kembali Ke Purwakarta sebelum hari gelap. Ya apa haruis dikata, kekompakan harus di jaga . Kami putuskan kembali ke Purwakarta.
Perlahan kami Gowes pedal sepeda kami, melewati Bengle,Belendung dan Kosambi lagi. Perlahan menembus debu debu sepanjang irigasi, melewati BIC dan kembali ke rumah jam ½ tujuh sore. Syukur semua selamat. Untuk posting ini saya tidak sempat mengambil gambar. Semua anggota kami terkena wabah low batt.

Selasa, 07 Juli 2009

Cross Country Selaawi -Cimayasari


Minggu tanggal 5 Juli 2009 kami melakukan kegiatan rutin dengan medan jalan yang lumayan bagus . Selaawi -Cimayasari. trek ini sebagian besar jalan aspal, hanya 20 % melewati hutan yang sebenarnya.Walaupun jalannya adalah jalan aspal namun ini adalah jalan pedesaan sehingga wajar kalo banyak lubang di sana sini. Tanjakan dan turunan adalah khas rute rute di purwakarta.
Titik tuju kami yang pertama adalah desa cipancur ,kemudian desa cikadu. kedua desa ini terletak di perbukitan . kalau kita lihat di google maps maka kita akan melihat beberapa daerah tangkapan air. Sayang kami tidak bisa mampir. karena tidak ada penunjuk jalan yang menterjemahkan antara peta dan kenyataan .
Desa Cikadu dapat kita capai setelah melihat simbol dURIAN di halaman balai desa. namun saya belum tahu hubungan nama tersebut dengan keberadaan buah durin di wilayah ini.
Ritual menyeberang sungai terjadi di rute ini. Jika ingin merasakan derasnya arus sungai sambil memanggul
sepeda silahkan coba rute ini.
Sukses menyeberangi sungai desa Cimayasari kita jejaki.
Desa Cimayasari terletak agak ke dalam dari wilayah sekitar Cipendeuy Subang. Disini kita bisa menemukan hutan karet. Dari sini kita bisa mengambil ke kiri ke Cipendeuy dan ke kanan akan sampai ke desa jalupang trus Banggala Mulya. Sebenarnya rute ke Banggalamulya yang ingin kami tuju. sayang sekali kami tidak bawa Peta, kompas apalagi GPS. Gowes terus membawa kami ke Cipendeuy. Untuk menghilangkan pebasaran kami dengan rute BanggalaMulya -Ponggang , kami memutuskan untuk pulang melewati desa Benteng dan Masuk ke Hutan di desa Cirende. Lumayan masuk hutan yang sebenarnya. Dengan Jalan Tanah bekas truk lewat.

Kamis, 02 Juli 2009

Reverse Route


Ini adalah pola bersepeda yang berkeseimbangan. Biasanya kita biasa melewati dari suatu rute yang monoton dari titik start A menuju titik finish B. Nah enaknya bersepeda gunung di Purwakarta , kita bisa saja membalik rute dari Titik B dan finish di titik A.
Trek yang kami lewati kali ini adalah start di Situ buleud depan rumah sakit Gunung Putri menuju desa salam Mulya melalui jalan aspal halus. Sampai di desa Salam Mulya kami mengambil jalan ke kiri. Rute ini adalah pembalikan rute yang kami lalui pada bulan Februari lalu.
Untuk mencapai desa salam Mulya ada dua tanjakan yang harus kita lalui , pertama tanjakan di Kampung Cihuni desa Lebak Anyar.Tanjakan yang lumayan berat ini berjarak sekitar 800 meter. Biasanya kami masih bisa melaju dengan kecepatan 10 km / jam . pelan ya, tapi namanya sepeda gunung , bisa melaju diatas 10km/ jam di tanjakan cihuni ini sudah bagus.
Sukses melewati Cihuni tanpa dorong kita bisa bersepeda agak santai, jalan didepan kita walaupun kecenderungannya naik, namun sudutnya relatif landai. Setelah rumah Makan sate Anwar II kita akan menajak sejauh 2,5 km untuk mencapai kawan hutan Ranca Darah.
Seperti biasa di setiap perubahan medan jalan kami regroup di pertigaan ini. Jalan dengan tipe 80 % rusak membentang di depan mata, kami akan melewati jalan rusak berbukit ini untuk mencapai desa Guruduk . Lokasi desa ini dapat dilihat di Google Maps, atau peta peta lokal di Indonesia. Namanya desa Guruduk , lumayan seram sesuai denagn kondisi jalan desanya yang penuh batu. Tidak ada salahnya jika para goweser mencoba menu ini. Ngetrek dari desa Salam Mulya ke Guruduk. Jika masih belum puas bisa kok , dilanjutkan ke desaWanawali dan Nyambung Ke desa Cikadu.
Melewati medan yang berat ini kami mengalami ritual ganti ban dalan seorang MTB-ers. Lumayan melatih kesigapan dan kerja sama tim .
Bagi yang mau mencoba rute ini , jangan khawatir kehabisan logistik, di beberapa lokasi dapat ditemui warung warung yang menyediakan air minum dan bahan berkarbonhidrat.

Mata Air Panas Ciracas

Sumber Air Panas ini kami datangi hari minggu tanggal 28 Juni 2009. Lokasi mata air panas ada di Desa Ciracas, Kecamatan Kiara Pedes. Keberadaan Mata Air panas di Kabupaten Purwakarta membuat saya penasaran. Saya koordinasikan teman - teman yang sudah pernah ke daerah ini untuk memandu tim yang akan mengunjungi mata air panas desa Ciracas.
Untuk sampai ke desa Ciracas kami mengambil rute Situ Buleud - Wanayasa – Babakan – Cibeber _ Kiara Pedes dan Desa Ciracas. Pukul 12: 30 Siang kami mencapai lokasi sumber mata air panas. Bagi yang menyukai perjalanan di kebon teh , rute ini juga melewati jalur perkebunan teh . Walaupun tidak melewati tengah perkebunan namun di samping kanan kiri jalan yang kami lewati selepas Wanayasa banyak ditumbuhi pohon teh. Bahkan di jalur tersebut kami temui juga Pabrik teh lokal . “Pabrik Teh Anggraini”. Jika ada MTB-ers yang ingin bersepeda di areal perkebunan teh , disini lokasi terdekat yang bisa kita capai.
Lelah Bersepeda kita bisa berendam Air panas di desa Ciracas. Makan dan Minum bisa kita dapatkan di warung kecil dekat nmata air panans ini. Kami pun sudah mencobanya. Maskan yang enak dan harga yang terjangkau. Disini kita bisa bersepeda ditengah suhu udara yang sejukn khas daerah gunung.